BLOG & ARTIKEL
Informasi, Inspirasi, dan Perspektif untuk Anda

Temukan berbagai konten dari Kumala Mulia yang dikemas dalam tiga kategori utama: Artikel, Tokoh, dan Opini.

Slide 1
Slide 2

Artikel 02 October 2026

Memaknai produktivitas dari sudut pandang pelaku bisnis

Memaknai produktivitas dari  sudut pandang pelaku bisnis

Beberapa kalangan bisnis dan pelaku usaha memiliki cara pandang yang berbeda terhadap produktivitas maupun kinerja bisnis. Meskipun keduanya sama-sama menggunakan cara dan metode pengukuran. Kinerja berbicara tentang bagaimana mencapai target bisnis, sedangkan produktivitas lebih ditekankan tentang bagaimana menjalankan proses operasional secara efisien. Efisiensi berarti melakukan sesuatu dengan cara yang benar, sedangkan efektivitas berarti melakukan hal yang benar (Drucker, 2020).

Perusahaan maupun organisasi sudah jelas tujuannya, setidaknya berupaya untuk meraih keberhasilan. Dalam mencapai keberhasilan tersebut, dituntut untuk berfokus pada 2 (dua) aspek penting yakni, kinerja karyawan dan/atau produktivitas karyawan. Meskipun kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian, keduanya memiliki makna dan implikasi yang berbeda. Memahami perbedaan ini, dapat membantu perusahaan menyempurnakan strategi, memperbaiki proses, meningkatkan kepuasan karyawan, serta mendorong kesuksesan secara keseluruhan.

Perbedaan sudut pandang bagi pelaku bisnis adalah sesuatu yang lumrah, bahwa ada yang lebih mengutamakan produktivitas, namun ada juga yang lebih mengutamakan kinerja bisnis. Yang lebih menarik lagi, bahwa ada juga yang sudah berfokus pada produktivitas dan kinerja bisnis. Semua bergantung pada pemahaman masing-masing pebisnis.

Disisi lain banyak kalangan yang paham bahwa efisiensi di tempat kerja merupakan perhatian utama bagi dunia usaha, karena dapat mempengaruhi produktivitas dan kinerja bisnis. Pada berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa hanya 21% karyawan di seluruh dunia yang merasa terlibat dalam pekerjaannya, sementara sisanya adalah kebiasaan kerja yang tidak produktif. Diperkirakan untuk hal-hal yang tidak produktif dapat menelan biaya sebesar $1,8 triliun setiap tahunnya (Maxeltracker, 2026).

Belakangan ini sudah mulai terlihat perubahan paradigma secara perlahan, bahwa sebagian pelaku bisnis sudah mencoba berfokus pada produktivitas dan kinerja. Salah satu tolok ukur keberhasilan suatu perusahaan menjalankan bisnisnya adalah dengan melihat tingkat produktivitas kerja karyawannya. Disebutkan bahwa karyawan yang memiliki kualitas kerja yang baik akan berdampak pada kesuksesan mereka dalam mencapai target kinerja yang diukur menggunakan metode Key Performance Indicator (KPI) perusahaan.

Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan produktivitas karyawan bukanlah hal yang mudah, dan kerapkali memerlukan effort dan biaya yang besar dari perusahaan atau organisasi tersebut. Lantas, apa yang perlu dilakukan? Bagaimana langkah-langkah untuk mencapai produktivitas yang benar?

Produktivitas mendorong keberlanjutan usaha

Produktivitas menurut definisi Asian Productivity Organization (APO), adalah rasio antara hasil yang dicapai (output) dan sumber daya yang digunakan (input). Keterkaitannya sangat erat, bahwa produktivitas adalah fondasi dari kinerja perusahaan. Produktivitas yang tinggi memastikan operasional berjalan efisien, menekan biaya, dan pada akhirnya mendorong profitabilitas serta daya saing bisnis secara keseluruhan. Inti dari pemahaman ini adalah bagaimana mencapai hasil yang maksimal dengan mengorbankan sumber daya seminimal mungkin.

Bagaimana meningkatkan produktivitas dan mendorong keberlanjutan di sektor logistik melalui transformasi digital, dapat kita simak penelitian yang dilakukan oleh Nguyen et al. (2026). Dijelaskan bahwa selama satu dekade terakhir, teknologi digital telah mengubah operasi bisnis, dan memberikan banyak manfaat. Bagaimana dampak teknologi digital terhadap total faktor produktivitas (TFP), menjadi hal yang menarik perhatian. Penelitian ini dengan menggunakan kumpulan data tingkat mikro yang mencakup 8.718 penyedia layanan logistik di 63 kota dan provinsi di Vietnam. Untuk melakukan estimasi TFP, digunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dan menerapkan pendekatan fungsi kontrol guna mengatasi masalah endogenitas. Nilai TFP hasil estimasi tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis dampak teknologi digital dan transformasi digital. Dalam hal penanganan heteroskedastisitas, peneliti menggunakan “robust standard errors” serta regresi “weighted least squares”.

Hasil penelitian Nguyen et al. (2026), telah ditulis pada artikel berjudul “Digital technology adoption and firm productivity : Insights from logistics service providers” telah dipublikasikan pada Journal Research in Transportation Business and Management. Penelitian ini mengungkapkan bahwa, teknologi digital, yang mencakup : internet, situs web (portal), perangkat lunak, dan sistem otomasi, berdampak positif dan signifikan terhadap TFP. Situs web dan sistem otomasi memberikan dampak yang paling kuat.

Dijelaskan pula bahwa tingkat adopsi teknologi digital yang lebih tinggi berkorelasi positif dengan peningkatan TFP pada perusahaan. Yang menarik, hubungan antara transformasi digital dan TFP menunjukkan pola kurva berbentuk huruf U, hal ini mengisyaratkan bahwa investasi dalam teknologi digital mungkin menurunkan TFP pada tahap awal sebelum manfaatnya mulai terlihat jelas. Temuan ini memberikan wawasan kebijakan yang berharga untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong keberlanjutan di sektor logistik.

Bagaimana menjalankan program produktivitas ?

Apapun pilihan pelaku bisnis, pada hakekatnya mengikuti tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Jika memilih berfokus pada produktivitas karyawan, maka ukurannya adalah efisien. Seberapa banyak pekerjaan yang diselesaikan oleh seorang karyawan dalam jangka waktu tertentu, berkaitan dengan hasil (output). Jumlah pekerjaan yang diselesaikan dibandingkan dengan waktu, tenaga, dan sumber daya yang digunakan, pada akhirnya berkaitan dengan kuantitas dan efisiensi (Maxeltracker, 2026), dapat dirinci sebagai berikut :

Manajemen waktu : mengatur dan menentukan prioritas tugas secara efisien untuk memaksimalkan hasil dalam batasan waktu tertentu.

Hasil kerja : jumlah tugas yang diselesaikan dalam periode tertentu, yang mencerminkan kontribusi karyawan terhadap tujuan operasional.

Penggunaan sumber daya : kemampuan untuk memanfaatkan alat, teknologi, dan dukungan yang tersedia secara efektif guna mengoptimalkan efisiensi.

Otomatisasi dan penggunaan teknologi : penggunaan perangkat digital, sistem berbasis AI, dan alur kerja otomatis untuk menyederhanakan tugas yang berulang serta meningkatkan hasil kerja.

Produktivitas diukur melalui perangkat lunak pelacakan waktu, catatan kerja, dan metrik operasional. Sedangkan kinerja bisnis pada umumnya dinilai melalui evaluasi kinerja, penilaian atasan, dan perhitungan pada Key Performance Indicator (KPI). Penilaian ini berfokus pada seberapa besar karyawan menjalankan tanggung jawab pekerjaannya, berkolaborasi dalam tim, serta berkontribusi terhadap tujuan perusahaan secara keseluruhan. Pemberian umpan balik secara berkala, penetapan tujuan, dan pembinaan dapat membantu meningkatkan kinerja karyawan dari waktu ke waktu.

Hubungi Kami